Fairy Tales : The Promise

Sebuah Kisah Klasik dari Negri Birma

Dahulu kala, ada seorang putri cantik dan kaya menempuh pendidikan di sekolah. Dia adalah seorang pelajar yang paling tekun, dan kisahnya bermulai pada…

Suatu hari saat dia berada di kelas, duduk di dekat jendela, dan sedang menulis di atas daun lontar dengan pena. Pena terselip di jari-jarinya yang lelah dan jatuh dari jendela ke tanah. Padahal, gurunya sedang asyik menjelaskan rumus yang sulit. Putri tersebut bisa saja meminta izin gurunya tapi menurutnya itu tidak sopan karena memotong penjelasan guru. Dia pun bisa saja tiba-tiba melompat dan mengambil pena yang jatuh, tapi ia akan tertinggal materi.

Ilustrasi : Teacher said “Students, pay attention, please!”

Dalam dilema itu, kebetulan seorang siswa laki-laki melewati jendela dan Sang Putri berbisik memohon untuk mengambilkan pena yang jatuh. Perlu diketahui oleh para Pembaca bahwa siswa tersebut adalah Pangeran tapi agak nakal (bad boy mode on).
Dengan senang Sang Pangeran menjawab, “Berjanjilah padaku bahwa Kau akan memberikan Bunga Pertama (Kesucian) mu pada Malam Pertama.”Si Putri yang sedang asyik dengan rumus Guru, seketika memahami kata ‘Bunga’ dan mengangguk. Sang Pangeran segera melupakan leluconnya tetapi memikirkan kejadian itu. Lain halnya dengan Sang Putri, Dia memahami penuh arti dari ucapan Pangeran dan berharap itu hanyalah sebuah gurauan.

Ilustrasi : Sang Putri minta Pangeran memungut penanya yang jatuh di balik jendela

Akhirnya Sang Putri dan Pangeran lulus. Pangeran balik ke kerajaan dan menggantikan tahta ayahnya, dan tetangga kerajaan yaitu sang Putri juga kembali dan menikah dengan seorang Pangeran lain. Pada malam pernikahan, sang Putri terbayang kembali pada Pena, dan hati nuraninya merasa resah, Dia mengaku kepada suaminya tentang janjinya tetapi yakin bahwa temannya ang seorang Pangeran itu hanya bercanda. Suami sang Putri berkata : “Sayangku, sebenarnya untuk meyakinkan apakah itu lelucon atau bukan, sebuah janji penghormatan tidak boleh dipatahkan. Setelah ‘sungkem’ kepada suaminya, seketika sang Putri memulai perjalanan menuju kerajaan sebelah untuk memenuhi janjinya kepada temannya.

Saat dia berjalan sendirian dalam kegelapan, seorang perampok menahannya dan berkata: “Wanita macam apa berjalan di malam hari, dihiasi emas dan permata? Serahkan padaku perhiasanmu, dan gaun sutramu.” “Oh, Perampok, jawab sang Putri, “ambil perhiasanku, tapi sisakan aku baju sutraku, karena aku tidak bisa masuk ke tempat Raja dalam keadaan telanjang dan malu.” “Tidak!”, kata Perampok, gaun sutra Anda sama berharganya dengan perhiasan Anda. Beri aku gaun itu juga. Gadis itu kemudian menjelaskan kepada Perampok alasan mengapa dia bepergian sendirian dalam gelap. “Saya terkesan dengan rasa hormat Anda.” Kata Perampok, “tetapi berjanji untuk kembali ke sini setelah memberikan Bunga Pertama kepada Raja, saya akan membiarkan Anda pergi”. Sang Putri berjanji, dan diizinkan untuk melanjutkan perjalanannya.

Ilustrasi : Negosiasi dengan Perampok

Sang Putri berjalan sampai di bawah pohon beringin. “Wanita apa ini, begitu segar, lembut dan berjalan sendiri di malam hari?” Kata Raksasa pohon. “Aku akan memakanmu, karena semua orang yang lewat di bawah pohonku pada jam malam adalah milikku.” “Oh, Raksasa, pinta sang Putri, ‘tolong ampuni aku, karena jika kau memakanku sekarang, janjiku untuk sang Raja entah akan jadi apa.” Setelah dia menjelaskan tujuan perjalanannya di malam hari, Raksasa berkata, “Saya terkesan dengan rasa hormat Anda”, tetapi berjanjilah untuk kembali ke sini setelah Anda bertemu dengan Raja, saya akan membiarkanmu pergi. ”Sang Putri berjanji dan dia diizinkan untuk melanjutkan perjalanannya.

Ilustrasi : Negosiasi dengan Ogre/Raksasa Pohon

Akhirnya, tidak telalu jauh, sang Putri tiba di kota dan menuju pintu gerbang istana Raja. “Ada acara apa Kau wahai wanita?” tanya penjaga istana. “Ada perlu apa Anda datang ke istana dan memaksa masuk pada jam tengah malam begini?” “Ini masalah kehormatan,” jawab sang Putri. “Tolong beritahu Tuanku Raja bahwa teman sekolahnya datang untuk menepati janji”.

Sang Raja, mendengar keributan itu, mengintip dari balik jendela kamar tidurnya, dan melihat seorang gadis berdiri dalam cahaya obor para penjaga istana, terpancar penuh mekar kecantikannya. Raja mengenalinya dan menginginkannya, tetapi ketika sang Raja mendengar ceritanya, dia mengaguminya karena kesetiaan pada janjinya, dan keberanian dalam menghadapi semua bahaya dan kesulitan untuk menepati janjinya. “teman saya,” kata Raja. “Anda adalah wanita yang luar biasa, untuk menghargai pengorbanan Anda sebagai wanita yang sopan, janjimu saya anggap sebagai lelucon dan saya telah mengabaikannya. Maka kembalilah pada suamimu”.

Ilustrasi: Raja temannya Sang Putri

Sang Putri kembali pada Raksasa pohon beringin, dan berkata, “Hai Raksasa, makanlah tubuhku, tetapi setelah makan, ambillah baju sutraku dan perhiasanku, dan berikan pada Perampok yang menungguku di beberapa meter dari sini. ”Raksasa menjawab, “Hai teman, Anda adalah wanita yang luar biasa, karena Anda menghargai kehormatan bahkan di atas hidup Anda. Anda bebas pergi, karena saya membebaskandari janji Anda.” Sang Putri kembali pada Perampok dan berkata,”Hai Perampok, ambil permata dan baju sutra saya meskipun saya harus kembali pada Suamiku dengan telanjang dan malu, Para Pelayan akan membiarkan saya masuk, karena mereka mengenali saya”. Perampok menjawab, “Hai Teman”, Anda adalah wanita ajaib, karena Anda menghargai janji di atas perhiasan dan gaun yang indah. Anda bebas pergi, karena saya membebaskan dari janji Anda. Jadi, Sang Putri itu kembali pada Suami yang menerimanya dengan penuh kasih sayang dan perhatian, dan mereka hidup bahagia selamanya.

Ilustrasi: Bahagia Selamanya

*Sampai akhir cerita The Promise, apakah Para Customer sudah mengantuk? Sama dong Kita, hehe. Oh iya, semua ilustrasi di atas bersumber dari pinterest.com.